UJI LEMAK
DISUSUN OLEH:
NOVANDA
BAYU LAKSONO
NIM
: C31120792
BAB I
LANDASAN TEORI
Lemak adalah
senyawa yang tidak larut dalam air yang dapat dipisahkan dari sel dan jaringan
dengan cara ekstrasi menggunakan pelarut organic yang non polar,misalnya dietil
eter atau kloroform. Oleh sebab itu,senyawa ini dibagi menurut sifat fisiknya
yaitu senyawa yang larut dalam pelarut non polar dan yang tidak larut dalam
air. Meskipun struktur lemak beracam macam semua lemak mempunyai sifat struktur
yang spesifik,yaitu mempunyai gugusan hidrokarbon hidrofob yang banyak sekali
dan sedikit gugusan hidro karbon hidrofil.
Hal ini menggambarkan sifat struktur
lemak yang tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam pelarut non polar.
Minyak
dan lemak tergolong gliserida,yaitu ester antara gliserol dan asam lemak,dimana
ketiga radikal hidroksil dari gliserol semua diesterkan. Struktur kimia dari
lemak yang berasal dari hewan,manusia,tanaman maupun lemak sintetik,mempunyai
bentuk umum sebagai berikut :
a. Sifat-sifat Fisis Lemak
a. Sifat-sifat Fisis Lemak
1. Titik lebur (melting point) lemak
relatif rendah,tetapi selalu lebih tinggi dari temperatur dimana ia menjadi padat kembali (setting
point). Misal lemak sapi mencair pada 49°C dan menjadi padat kembali pada 36°C.
Titik lebur lemak tergantung pada panjang pendeknya rantai karbon dari asam
lemak penyusunya dan banyak sedikitnya ikatan – ikatan rangkap. Makin panjang
rantai karbon tersebut makin tinggi titik lebur lemak, dan makin banyak ikatan
rangkap makin rendah titik leburnya. Misal titik lebur trimalpitin 66°C dan
tristearin 71°C. Titik lebur triolein yang mempunyai tiga buah ikatan rangkap
mempunyai titik lebur -5°C.
2. Lemak netral tidak larut dalam air,
tetapi dapat larut dalam pelarut-pelarut lemak seperti
eter,chloroform,petroleumeter,carbon tetrakhlorida. Lemak dapat larut dalam
alkohol panas dan sedikit larut dalam alkohol dingin.
3. Berat jenis lemak padat sekitar
0.63,sedangkan minyak atau lemak cair 0.915-0.940,karena berat jenis lemak
lebih rendah dari pada berat jenis air menyebabkan lemak menjadi terapung
diatas air bila keduanya dicampur.
4. Lemak murni tidak berwarna,tidak
berbau,tidak ada rasanya serta mempunyai sifat netral. Lemak berbau atau
berwarna disebabkan karena adanya figment-figment dari asalnya atau mengalami
perubahan struktur disebabkan pengaruh udara dalam jangka waktu yang cukup
lama. Beberapa minyak nabati yang berwarna kuning disebabkan karena adanya
figment seperti corotene dan xanthophyl.
B. Sifat-Sifat
Kimia Lemak
1.Lemak dapat dihidrolisasi dengan
dipanaskan pada temperatur dan tekanan tinggi . Jika didihkan pada tekanan
biasa hidrolisa berjalan labat. Hidrolisa yang umum dilakukan dengan basa kuat
(NaOH/KOH),Dihasilkan gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Sabun dan
gliserol larut dalam air. Untuk memisahkan sabun dengan gliserol ditabahkan
garam NaCL.
2.Lemak tak jenuh dapat mengaddisi
hidrogen,sehingga menjadi lemak jenuh. Proses ini disebut hidrogenasikatalitik
sebab diperlukan katalisator,yaitu serbuk nikel,kadang disebut juga proses
pemadatan atau pengerasan lemak jenuh sebab pada proses ini lemak tak
jenuh(cair) menjadi lemak jenuh(padat)
3.Bila lemak tak jenuh ditambah
beberapa tetes aquabromata dan kemudian campuran ini dikocok maka warna dari
aquabromata akan luntur. Dalam hal ini brom dari aquabromata diaddisi oleh
ikatan rangkap yang ada pada lemak tak jenuh tersebut. Disamping mengaddisi
brom,lemak tak jenuh dapat mengaddisi lod. Reaksinya identik dengan reaksi
diatas hanya brom diganti dengan lod.
4.Hidrogenolisis lemak dapat diartikan
sebagai pembongkaran lemak oleh pengaruh hidrogen menjadi alkohol. Untuk lemak
tak jenuh mula – mula akan menjadi gliserol dan asam lemak tak jenuh kemudian
sam lemak tak jenuh yang terbentuk mengalai hidrogenasi katalitik sehingga
terbentuk alkohol jenuh.
5.Reaksi penyebab ketengikan (
rancidity) adalah perubahan kimia yang menimbulkan aroma/bau dan rasa tidak
enak pada lemak. Ketengikan pada lemak jenuh yang asa lemak penyusunya
mempunyai rantai pendek,dapat terjadi hanya karena pengaruh hidrolisa.
Sedangkan ketengikan lemak tak jenuh
yang asam lemak penyusunya mempunyai rantai panjang,dapat terjadi melalui dua
proses yaitu proses oksidasi dan hidrolisa. Penambahan oksigen atau anti
oksidan dapat mencegah terjadinya ketengikan
BAB II
METODOLOGI
2.1 ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. tabung reaksi
2. rak tabung reaksi
3. pipet volume
4. pipet tetes
b. Bahan
1. minyak
2. KOH 0,5 N
3. HCI 0,5 N
4. indikator PP
5. Aquades
2.2 PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a. Uji Minyak
1. Timbang minyak sebanyak 5 gram dalam Erlenmeyer
2. Tambahkan sebanyak 50 ml KOH 0,5
N alkoholik
3.
Tutup dengan pendingin, selanjutnya didihkan sampai minyak tersabunkan secara
sempurna ditandai dengan tidak terlihat butir-butir lemak dalam larutan
4. Setelah dingin titrasi dengan HCI
0,5 N menggunakan indikator PP
5. Amati perubahan yang terjadi
6. Catat hasil pengamatan
b. Uji Aquades
1. Timbang minyak sebanyak 5 gram dalam Erlenmeyer
2. Tambahkan sebanyak 50 ml KOH 0,5
N alkoholik
3. Tutup dengan pendingin, selanjutnya didihkan sampai
minyak tersabunkan secara sempurna ditandai dengan tidak terlihat butir-butir
lemak dalam larutan
4. Setelah dingin titrasi dengan HCI
0,5 N menggunakan indikator PP
5. Amati perubahan yang terjadi
6. Catat hasil pengamatan
BAB III
HASIL PENGAMATAN
3.1 Uji Minyak
|
No
|
Jenis Larutan
Zat
|
Di
panaskan 15 menit
|
Ditambahkan
larutan 3 tetes indikator PP
|
Dititrasi
dengan larutan
HCI 0,5 N
|
Hasil
akhir
|
|
1
|
5
gr minyak + 50 ml KOH 0,5 N alkoholik
|
Berwarna putih bening
|
Berwarna
merah jambu
|
41
ml
|
Berwarna
putih bening
|
3.2 Uji Aquades
|
No
|
Jenis Larutan
Zat
|
Di
panaskan 15 menit
|
Ditambahkan
larutan 3 tetes indikator PP
|
Dititrasi
dengan larutan
HCI 0,5 N
|
Hasil
akhir
|
|
1
|
5
gr Aquades
+ 50 ml KOH 0,5 N alkoholik
|
Berwarna putih bening
|
Berwarna
merah jambu
|
43
ml
|
Berwarna
putih bening
|
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, melakukan percobaan dalam
menentukan angka penyabunan atau disebut juga bilangan saponifikasi. Angka
penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya miligram basa (dalam percobaan ini
menggunakan KOH) yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak.
Pada percobaan pertama, praktikan melakukan standarisasi HCl
0,5 N dengan cara menitrasi larutan minyak dan di tambahkan 50 ml KOH 0,5 N
alkoholik, setelah itu di panaskan 15 menit dan ditambahkan indikator PP. Pada
titrasi ini, volume yang dipakai sebanyak 41 mL lalu setelah dititrasi
dengan HCl 0,5 N.
Percobaan selanjutnya yaitu pada aquades dan di tambahkan 50
ml KOH 0,5 N alkoholik, setelah itu di panaskan 15 menit dan ditambahkan
indikator PP. Pada titrasi ini, volume yang dipakai sebanyak 43 mL lalu
setelah dititrasi dengan HCl 0,5 N.
Sehingga di hasilkan angka penyabunan sebagai berikut :
Angka
Penyabunan : 11,2
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan di atas
dapat di simpulkan bahwa :
a.
Pada uji minyak di butuhkan titrasi
dengan larutan HCl 0,5 N
sebanyak 41 ml.
b. Pada uji aquades di butuhkan titrasi
dengan larutan HCl 0,5 N
sebanyak 43 ml.
c.
Sehingga pada perhitungan angka
penyabunan diperoleh 11,2

siippp..terimakasih atas infonya
BalasHapus