SISTEM RESPIRASI UNGGAS DAN MAMALIA
DISUSUN OLEH:
NOVANDA
BAYU LAKSONO
NIM
: C31120792
SISTEM RESPIRASI UNGGAS
A.
SIKLUS RESPIRASI
Siklus
respirasi pada ayam berbeda dengan sistem respirasi mamalia. Namun secara garis
besar siklus resparasi ayam sama dengan siklus respirasi pada aves. Berikut ini
adalah siklus-siklus respirasi yang terdapat pada ayam(Unggas) :
a)
Selama inspirasi
pertama, perjalanan udara melalui hidung(nares) menuju rongga hidung. dari
rongga hidung udara melalui laring dan ke trakea, udara bergerak melalui trakea
ke syiring yang terletak di titk sebelum trakea membagi dua, yang kemudian
megalir melalui syring. Udara tidak langsung pergi ke paru-paru, tetapi menuju
ke kantong udara ekor(posterior). Sejumlah kecil udara akan melewati melalui
kantong udara ekor untuk paru-paru.
b) Selama ekspirasi pertama, udara di pindahkan dari
posterior menuju ke kantung udara melalui ventrobronchi dan dorsobronchi ke
paru-paru. Bronkus akan membelah udara ke saluran kapiler dengan diameter yang
lebih kecil. Darah kapiler mengalir melalui kapiler udara dan ini adalah tempat
oksigen dan karbondioksida dipertukarkan.
c) Ketika burung mengulangi inspirasi kedua kalinya,
udara bergerak ke kantung-kantung udara skeleton.
d) Ekspirasi kedua udara bergerak keluar dari kantong
udara skeleton, melalui siring ke
trakea, menuju laring, dan akhirnya melalui rongga hidung dan keluar dari
lubang hidung.
B.
MEKANISME PERNAFASAN
Sistem
mekanisme pernafasan pada ayam menjadi dua macam, yaitu :
1.
Pernafasan Pada Waktu
Istrahat
Pernafasan
pada burung di saat hinggap adalah burung menghisap udara lalu udara mengalir
lewat bronkus ke pundi-pundi hawa bagian belakang bersamaan dengan itu, udara
yang sudah ada di paru-paru mengalir ke pundi-pundi hawa. Udara di pundi-pundi
belakang mengalir ke paru-paru lalu udara menuju pundi-pundi hawa depan.
Kecepatan respirasi pada berbagai hewan berbeda bergantung dari berbagai
hal,antara lain : aktifitas, kesehatan, dan bobot tubuh. Adapun fase-fase yang
terjadi ketika pernafasan istirahat, yaitu :
a)
Fase inspiratio, pada
fase ini costae bergerak ke arah cranioventral, sehingga cavum thornealis
membesar. Pulmo mengembang sehingga udara masuk ke dalam pulmo.
b)
Fase experitio, pada
fase ini costae kembali ke dudukan semula, cavum thorneilis mengecil. Polmu
mengempis, udara keluar dari pulmo.
2.
Pernafasan Pada Waktu
Terbang
Saat
terbang pergerakan aktif dari rongga dada tidak dapat di lakukan karena tulang
dada dan tulang rusuk merupakan pangkal perlekatan otot yang berfungsi untuk
terbang. Pada saat terbang, kantung udara berperan sangat penting. Inspirasi
dan ekspirasi di lakukan secara bergantian oleh kantung udara di antara tulang
coracoid(interclavicular sac) dan kantung udara di bawah tulang
ketiak(subsapular sac). Saat mengepakan sayap, kantong udara di antara tulang
coracoid terjepit sehingga udara kaya oksigen pada bagian itu masuk ke paru-paru(inspirasi).
Saat sayap terkepak turun. Kantung udara di bawah ketiak terjepit sementara
kantung udara di antara tulang coracoid mengembang, sehingga udara masuk ke
kantung udara di antara coracoid(ekspirasi). Semakin tinggi burung terbang,
maka semakin cepat kepakan sayapnya. Karena kadar oksigen pada udara di lapisan
atas semakin kecil atau menipis.
SISTEM RESPIRASI MAMALIA
Mekanisme
Pernafasan Manusia
Pernapasan
adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun, karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2
jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan
luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus
dengandarah dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi
antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam
paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan
tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar, maka
udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar
maka udara akan keluar.
Sehubungan
dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara ( inspirasi) dan pengeluaran
udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara
bersamaan.
1.
Pernafasan Dada
Apabila
kita menghirup dan menghempaskan udara menggunakan pernapasan dada, otot yang
digunakan yaitu otot antartulang rusuk. Otot ini terbagi dalam dua bentuk,
yakni otot antartulang rusuk luar dan otot antartulang rusuk dalam.
Saat
terjadi inspirasi, otot antartulang rusuk luar berkontraksi, sehingga tulang
rusuk menjadi terangkat. Akibatnya, volume rongga dada membesar. Membesarnya
volume rongga dada menjadikan tekanan udara dalam rongga dada menjadi kecil/berkurang,
padahal tekanan udara bebas tetap. Dengan demikian, udara bebas akan mengalir
menuju paru-paru melewati saluran pernapasan.
Sementara
saat terjadi ekspirasi, otot antartulang rusuk dalam berkontraksi
(mengkerut/mengendur), sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula.
Akibatnya, rongga dada mengecil. Oleh karena rongga dada mengecil, tekanan
dalam rongga dada menjadi
meningkat,
sedangkan tekanan udara di luar tetap. Dengan demikian, udara yang berada dalam
rongga paru-paru menjadi terdorong keluar.
2.
Pernafasan Perut
Pada
proses pernapasan ini, fase inspirasi terjadi apabila otot diafragma (sekat
rongga dada) mendatar dan volume rongga dada membesar, sehingga tekanan udara
di dalam rongga dada lebih kecil daripada udara di luar, akibatnya udara masuk.
Adapun fase ekspirasi terjadi apabila otot-otot diafragma mengkerut
(berkontraksi) dan volume rongga dada mengecil, sehingga tekanan udara di dalam
rongga dada lebih besar daripada udara di luar. Akibatnya udara dari dalam
terdorong ke luar.
3.
Mekanisme Pertukaran Gas Oksigen (02)dan Karbondioksida (CO2)
Udara
lingkungan dapat dihirup masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui dua cara,
yakni pernapasan secara langsung dan pernapasan tak langsung.
Pengambilan udara secara langsung dapat dilakukan oleh permukaan tubuh lewat
proses difusi. Sementara udara yang dimasukan ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan dinamakan pernapasan tidak langsung.
Saat
kita bernapas, udara diambil dan dikeluarkan melalui paruparu. Dengan lain
kata, kita melakukan pernapasan secara tidak langsung lewat paru-paru. Walaupun
begitu, proses difusi pada pernapasan langsung tetap terjadi pada paru-paru.
Bagian paru-paru yang meng alami proses difusi dengan udara yaitu gelembung
halus kecil atau alveolus. Oleh karena itu, berdasarkan proses terjadinya
pernapasan, manusia mempunyai dua tahap mekanisme pertukaran gas. Pertukaran
gas oksigen dan karbon dioksida yang dimaksud yakni mekanisme pernapasan
eksternal dan internal.
a.
Pernafasan Eksternal
Ketika
kita menghirup udara dari lingkungan luar, udara tersebut akan masuk ke dalam
paru-paru. Udara masuk yang mengandung oksigen tersebut akan diikat darah lewat
difusi. Pada saat yang sama, darah yang mengandung karbondioksida akan
dilepaskan. Proses pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara
udara dan darah dalam paru-paru dinamakan pernapasan eksternal. Saat sel
darah merah (eritrosit) masuk ke dalam kapiler paru-paru, sebagian besar CO2
yang diangkut berbentuk ion bikarbonat (HCO- 3) . Dengan bantuan enzim karbonat
anhidrase, karbondioksida (CO2) air (H2O) yang tinggal sedikit dalam darah akan
segera berdifusi keluar. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.
Seketika
itu juga, hemoglobin tereduksi (yang disimbolkan HHb) melepaskan ion-ion
hidrogen (H+) sehingga hemoglobin (Hb)-nya juga ikut terlepas. Kemudian,
hemoglobin akan berikatan dengan oksigen (O2) menjadi oksihemoglobin (disingkat
HbO2).
Proses
difusi dapat terjadi pada paru-paru (alveolus), karena adaperbedaan tekanan parsial
antara udara dan darah dalam alveolus. Tekanan parsial membuat konsentrasi
oksigen dan karbondioksida pada darah dan udara berbeda.
Tekanan
parsial oksigen yang kita hirup akan lebih besar dibandingkan tekanan parsial
oksigen pada alveolus paru-paru. Dengan kata lain, konsentrasi oksigen pada
udara lebih tinggi daripada konsentrasi oksigen pada darah. Oleh karena itu,
oksigen dari udara akan berdifusi menuju darah pada alveolus paru-paru.
Sementara
itu, tekanan parsial karbondioksida dalam darah lebih besar dibandingkan
tekanan parsial karbondioksida pada udara. Sehingga, konsentrasi karbondioksida
pada darah akan lebih kecil di bandingkan konsentrasi karbondioksida pada
udara. Akibatnya, karbondioksida pada darah berdifusi menuju udara dan akan
dibawa keluar tubuh lewat hidung.
b.
Pernafasan Internal
Berbeda
dengan pernapasan eksternal, proses terjadinya pertukaran gas pada pernapasan
internal berlangsung di dalam jaringan tubuh. Proses pertukaran oksigen dalam
darah dan karbondioksida tersebut berlangsung dalam respirasi seluler. Setelah
oksihemoglobin (HbO2) dalam paru-paru terbentuk, oksigen akan lepas, dan
selanjutnya menuju cairan jaringan tubuh. Oksigen tersebut akan digunakan dalam
proses metabolisme sel. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Proses
masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui proses difusi.
Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen dan
karbondioksida antara darah dan cairan jaringan. Tekanan parsial oksigen dalam
cairan jaringan, lebih rendah dibandingkan oksigen yang berada dalam darah.
Artinya konsentrasi oksigen dalam cairan jaringan lebih rendah. Oleh karena
itu, oksigen dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.
Sementara
itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah daripada cairan jaringan.
Akibatnya, karbondioksida yang terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi ke
dalam darah. Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan
berikatan bersama hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin (HbCO2). Reaksinya
sebagai berikut.
Namun,
sebagian besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam plasma darah dan
bergabung dengan air menjadi asam karbonat (H2CO3). Oleh enzim anhidrase, asam
karbonat akan segera terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan ion
bikarbonat (HCO- Persamaan reaksinya sebagai berikut.
CO2 yang
diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar tubuh oleh paru-paru, akan
tetapi hanya 10%-nya saja. Sisanya yang berupa ion-ion bikarbonat yang tetap
berada dalam darah. Ion-ion bikarbonat di dalam darah berfungsi sebagai bu. er
atau larutan penyangga. Lebih tepatnya, ion tersebut berperan penting dalam
menjaga stabilitas pH (derajat keasaman) darah.

siippp..terimakasih atas infonya
BalasHapus