PEMBENTUKAN OSAZON
DISUSUN OLEH:
NOVANDA
BAYU LAKSONO
NIM
: C31120792
BAB
I
LANDASAN
TEORI
Karbohidrat adalah poli hidroksi aldehid dan poli hidroksi
keton dan meliputi kondensat polimer – polimernya yang terbentuk. Rumus empiris
karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut : Cm(H2O)n atau (CH2O). Tetapi ada
juga karbohidrat yang mempunyai rumus empiris tidak seperti rumus diatas, yaitu
deoksiribosa, deoksiheksosa dan lain- lain (Sudarmanto,dkk,2000).
Semua jenis karbohidrat terdiri atas unsur-unsur karbon (C),
hydrogen (H), dan Oksigen (O). Perbandingan antara hydrogen dan oksigen pada
umumnya adalah 2:1 seperti halnya dalam air; oleh karena itu diberi nama
karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum karbohidrat adalah CnH2nOn.
Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa (5-atom karbon), dan polimernya
memegang perana penting dalam ilmu gizi (Almatsier,2001).
Sifat-sifat umum karbohidrat menurut
Soeharsono (1978), adalah sebagai berikut:
a.Daya mereduksi
Bilamana monosakarida seperti glukosa dan fruktosa ditambahkan ke dalam larutan luff maupun benedict maka akan timbul endapan warna merah bata. Sedangkan sakarosa tidak dapat menyebabkan perubahan warna. Perbedaan ini disebabkan pada monosakarida terdapat gugus karbonil yang reduktif, sedangkan pada sakarosa tidak. Gugus reduktif pada sakarosa terdapat pada atom C nomor 1 pada glukosa sedangkan pada fruktosa pada atom C nomor 2. Jika atom-atom tersebut saling mengikat maka daya reduksinya akan hilang, seperti apa yang terjadi pada sakarosa.
Larutan yang dipergunakan untuk menguji daya mereduksi suatu disakarida adalah larutan benedict. Unsur atau ion yang penting yang terdapat pada larutan tersebut adalah Cu2+ yang berwarna biru. Gula reduksi akan mengubah atau mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+ (Cu2O) yang mengendap dan berwarna merah bata. Zat pereduksi itu sendiri akan berubah menjadi asam.
a.Daya mereduksi
Bilamana monosakarida seperti glukosa dan fruktosa ditambahkan ke dalam larutan luff maupun benedict maka akan timbul endapan warna merah bata. Sedangkan sakarosa tidak dapat menyebabkan perubahan warna. Perbedaan ini disebabkan pada monosakarida terdapat gugus karbonil yang reduktif, sedangkan pada sakarosa tidak. Gugus reduktif pada sakarosa terdapat pada atom C nomor 1 pada glukosa sedangkan pada fruktosa pada atom C nomor 2. Jika atom-atom tersebut saling mengikat maka daya reduksinya akan hilang, seperti apa yang terjadi pada sakarosa.
Larutan yang dipergunakan untuk menguji daya mereduksi suatu disakarida adalah larutan benedict. Unsur atau ion yang penting yang terdapat pada larutan tersebut adalah Cu2+ yang berwarna biru. Gula reduksi akan mengubah atau mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+ (Cu2O) yang mengendap dan berwarna merah bata. Zat pereduksi itu sendiri akan berubah menjadi asam.
b.Pengaruh asam
Monosakarida stabil terhadap asam mineral encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural, yaitu suatu turunan aldehid.
c.Pengaruh alkali
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih stabil terhadap reaksi hidrolisis(Soeharsono,1978).
Monosakarida stabil terhadap asam mineral encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural, yaitu suatu turunan aldehid.
c.Pengaruh alkali
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih stabil terhadap reaksi hidrolisis(Soeharsono,1978).
Pembentukan Osazon
Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat dan merupakan salah satu cara untuk membedakan beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan galaktosa yang terdapat dalam urine wanita dalam masa menyusui. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat dan merupakan salah satu cara untuk membedakan beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan galaktosa yang terdapat dalam urine wanita dalam masa menyusui. (McGilvery&Goldstein, 1996)
BAB II
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum Daya reduksi karbohidrat
ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Jember. Waktu yang
di gunakan yaitu hari Senin 25 Maret 2013 mulai pukul 09.30 WIB sampai selesai.
1.
PRAKTIKUM 1 ( Pengaruh alkali dengan uji benedict)
ALAT :
1.
Tabung reaksi 2 buah
2.
Waterbath
3.
Pipet ukur
4.
Pipet tetes
BAHAN
1.
Glukosa 0,01 M
2.
Na2NO3
3.
Larutan benedict
CARA KERJA :
1.masukkan
ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 ml glukosa dan di tambahkan sedikit Na2NO3
2.kemudian
di bagi rata ke dalam kedua tabung
3.
pada tabung 2 di dinginkan selama 30 menit
4.
tabung 1 dan 2 di beri 2 ml larutan
benedict dan kemudian panaskan selama 10 menit
5.
amati perubahan yang tejadi
2.
PRAKTIKUM 2 ( pembentukan osazon )
Alat
:
1.
Tabung reaksi 3 buah
2.
Pipet tetes
3.
Pipet ukur
4.
Penjepit tabung
5.
Busen pemanas
Bahan :
1.
5 ml glukosa 0,01 M
2.
5 ml fruktosa 0,1 M
3.
5 ml arabinosa 0,1 M
4.
Larutan asam asetat
5.
Larutan fenilhidrazine
Cara kerja :
1.
Siapkan 3 buah tabung reaksi
2.
Masukkan tiga tabung msing-masing di
isi 5 ml glukosa 0,01 M pada tabung 1; 5 ml fruktosa 0,1 Mpada tabung 2; 5 ml
arabinosa 0,1 Mpada tabung .
3.
Tambahkan 10 tetes asam asetat ke
masing-masing tabung reaksi
4.
Tambahkan sedikit larutan fenilhidrazine
5.
Panaskan hingga terbentuk Kristal
6.
Kemudian amati mikroskop
7.
Gambar masing –masing Kristal
BAB
III
HASIL
PENELITIAN
1.
PRAKTIKUM 1
|
No Tabung
|
Larutan Glukosa O,O1 M
|
Na2no3
|
Larutan Benedict
|
Di Panaskan
|
Keterangan
|
|
1
|
2 ml
|
Sedikit(1/2 sendok)
|
2 ml
|
Selama 10 menit
|
Coklat terdapat endapan putih
|
|
2
|
2 ml
|
Sedikit(1/2 sendok)
|
2 ml
|
Pertama dipanaskan 30 menit kemudian
10 menit
|
Coklat terdapat endapan merah bata
|
2.
PRAKTIKUM 2
|
No
|
Larutan
|
Keterangan
|
|
1
|
5 mil glukosa + 10 tetes asam
asetat + 3 tetes fenilhidrazine
|
|
|
2
|
5 mil fruktosa + 10 tetes asam
asetat + 3 tetes fenilhidrazine
|
|
|
3
|
5 mil anabinosa + 10 tetes asam
asetat + 3 tetes fenilhidrazine
|
BAB IV
PEMBAHASAN
PRAKTIKUM 1 ( Pengaruh
alkali ddengan uji benedict)
Dalam melakukan uji benedict ini
menggunakan 2 sampel yang berbeda, pada masing- masing tabung di beri 2 ml
larutan glukosa 0,01 M dan di tambahkan
sedikit Na2NO3 . kemudian pada
tabung 2 di panaskan selama 30 menit kemudian dinginkan. Selanjutnya pada masing-masing
tabung di tambahkan 2 ml larutan benedict dan di panaskan selama 10 menit .
hasil yang di dapatkan pada tabung satu mengalami perubahan warna yang semula
putih keruh menjadi coklat dan terdapat endapan putih, sedangkan pada tabung 2
warna yang semula putih keruh menjadi orensdan terdapat endapat merah bata.
Uji benedict ini dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya gugus reduksi pada glukosa,sukrosa dan maltodekstrin.
Gugus reduksi ini mempunyai daya untuk mereduksi. Kemampuan ini disebabkan karena
kandungan gugus reduktif yang mempunyai batasan yaitu gugus -OH bebas yang
terikat pada atom C hemiasetal. Menurut Sudarmadji (2003), Gula reduksi dengan
larutan Benedict (campuran garam kuprisulfat, Natrium sitrat, Natrium karbonat)
akan terjadi reaksi reduksi-oksidasi dan dihasilkan endapan berwarna merah bata
dari kuprooksida. Jadi kriteria untuk reaksi positif adalah terbentuknya
endapan kuprooksida dengan warna merah bata. Sehingga pada
hasil pengamatan pada tabung kedua menunjukkan reaksi positif sedangkan pada
tabung pertama tidak menunjukkan reaksi positif
PRAKTIKUM 2 ( Pembentukan
Osazon)
Dalam pengujian ini menggunakan
sampel 5 ml glukosa 0,01 M pada tabung 1 ; 5 ml fruktosa 0,1 M pada tabung 2 ;
5 ml arabinosa pada tabung 3. Kemudian di tambahkan 10 tetes asam aseetat pada
masing-masing tabung. Lalu di
tambahkan pula 3 tetes fenilhidrazine pada
masing-masing tabung. Kemudian di panaskan dengan busen pemanas sampai berubah
menjadi kristal dan di amati dengan menggunakan mikroskop. Hasil yang di
dapatkan terjadi perbedaan bentuk kristal pada masing-masing tabung.
Pada uji Osazon, yang mendasarinya
adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atau keton bersama
fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atao osazon. Osazon yang
terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik.
Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan, namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas., sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih.
Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan, namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas., sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pembahasan, dapat di simpulkan bahwa :
1.
Pada pengujian
pengaruh alkali dengan menggunakan uji benedict adanya endapan merah bata
menunjukkan reaksi positif.
2. Pada pengujian
pembentukan osazon terjadi perbedaan bentuk kristal pada masing-masing tabung.
siippp..terimakasih atas infonya
BalasHapus