Minggu, 30 Juni 2013

LAPORAN BAHAN PAKAN TERNAK NON RUMNANSIA
DISUSUN OLEH:
NOVANDA BAYU LAKSONO
NIM : C31120792

A.   PENDAHULUAN
Bangsa unggas termasuk ayam tidak mungkin diberi satu bahan pakan saja. Sehingga memerlukan kombinasi beberapa bahan pakan sebagai bahan pakan penyusun ransum. Bahan-bahan penyusun ransum harus memenuhi kebutuhan ternak baik secara kualitas dan kuantitas. Kebutuhan akan gizi ransum tergantung dari jenis unggas, umur, pertumbuhan, tujuan produksi dan tingkat konsumsi dari ternak unggas.Bahan pakan adalah bahan – bahan yang dapat digunakan untuk menyusun ransum ternak unggas yang siap diberikan kepada ternak unggas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak.Pakan merupakan bahan – bahan yang langsung dapat dikonsumsi oleh ternak unggas.Ransum merupakan campuran beberapa bahan pakan yang telah memenuhi kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan oleh ternak yang siap diberikan dan habi dikonsumsi selama 24 jam. Konsentrat adalah campuran bahan pakan yang merupakan produk pabrik pakan ternak yang mengandung protein lebih dari 34%.
B.   PEMBAHASAN
Dalam pemberian pakan pada ternak, kita dapat begitu saja memberikan pakan terhadap ternak. Namun kita harus memperhatikan Fungsi dari pakan, kualitas bahan pakan, kemurnian bahan pakan, serta faktor-faktor pembatasan pemberian pakan.
·         Manfaat Pakan ternak
Pakan ternak haruslah pakan yang bermanfaat bagi perkembangan ternak tersebut. Di dalam pakan ternak haruslah berisi kandungan-kandungan yang dapat membantu perkembangan ternak tersebut. Berikut ini adalah beberapa macam-macam pakan yang di utamakan manfaaatnya:
1.      Jagung
Merupakan sumber energi yang baik karena serat kasarnya rendah. Sumber xanthophyl dan asam lemak. Asam lemak jagung sebesar 1,60% sebagai sumber protein atau asam amino juga kurang baik karena hanya mengandung 9 – 10% protein kasar.
2.      Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan bahan pakan hasil samping pengolahan kelapa, baik itu minyak kelapa atau yang lain. Merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati, mengandung protein kasar 20 – 26%. Digunakan sebagai bahan pendamping tepung ikan dan jagung kning. Kelemahannya : karena kandungan minyak tinggi sehingga mudah tengik menyebabkan mengganggu selera makan.
3.      Dedak halus
Bahan pakan unggas asal nabati yang paling banyak digunakan adalah dedak halus. Kandungan nutrisi dedak halus adalah sebagai berikut: protein kasar 1890 Kkal/kg dan lemak kasar sebesar 8,3%. Dedak mempunyai kandungan serat kasar 13%. Bangsa unggas tidak mampu mencerna serat kasar lebih dari 4% karena serat kasar inilah yang menjadi faktor pembatas sehingga dedak halus tidak dapat digunakan secara berlebihan.
4.      Ubi Kayu dan Hasil Olahannya
Ubi kayu mempunya kandungan energi 2970 k.kal/kg. Penggunaan ubi kayu memerlukan proses lebih lanjut dengan cara dkeringkan terlebih dahulu. Kelemahan ubi kayu mengandung racun Hidrocyanik (HCN), pemanasan dengan matahari, direbus atau dipanaskan dengan suhu 70 – 800C dapat mengurangi pengaruh HCN.
5.       Tepung ikan
Tepung ikan pada umumnya terdapat dalam formula ransum ungas komersial (mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk diperjualbelikan). Umumnya tepung ikan terdapat dalam ransum unggas yang dapat menghasilkan produksi tinggi. Secara umum tepung ikan berkualitas baik mengandung protein kasar 60% - 70%.
6.      Tepung tulang
Tepung tulang digunakan sebagai sumber kalsium, terutama untuk unggas yang sedang/dalam masa pertumbuhan. Sebagai sumber kalsium dan fosfat, tepung tulang mengandung posfor 12% - 15% dan kalsium 24% - 30%.
7.      Geranteh
Yaitu hasil dari penggilingan kulit padi, gerantek adalah urutan ke dua setelah sekam dari hasil penggilingan padi gerantek kurang cocok untuk  di berikan kepada ternak unggas, karna unggus tidak mampu mencerna serat kasar dengan baik, gerantik baik digunakan sebagai  bahan pakan ternak ruminansia.
8.      PK2
Tidak jauh berbeda dari  gerantek, PK2 juga berasal dari penggilingan kulit padi tapi PK2 memiliki tekstur lebih halus di bandingkan dengan gerantek, tetapi Pk2 masih belum begitu bagus untuk konsumsi pakan unggas karna masih memiliki tekstur kasar dan kurang bagus juga untuk pencernaan ternak unggas.
9.      Separator / bekatul
Bahan pakan ini juga dari hasil pengglingan kulit padi yang memiliki tekstur halus, bahan pakan ini baik untuk untuk ternak unggas dan ternak ruminansia karna memiliki tekstur yang halus sehingga dapat di cerna dengan baik oleh ternak unggas.
10.  Bungkil kelapa sawit
Yaitu  hasil dari limbah kelapa sawit (ampas) yang di manfaatkan sebagai pakan ternak,  Bungkil kelapa sawit memiliki factor pembatas yaitu kandungan seratkasar yang tinggi dan daya cerna yang rendah kandungan bungkil kelapa sawit mencapai18,33% - 21,3%. Selain itu, bungkil kelapa sawit mengandung kadar protein yang lebih rendah dari bungkil kedelai dan kacang tanah yaitu 15,73% - 17,19%. kandungan protein antara 13,6% - 17,45%, kandungan lemak kasar berkisar antara 17,1% - 21,55%
11.  Bungkil kedelai
Bungkil kedelai tergolong bahan pakan yang mengandung protein tinggi. Kandungan nutrisinya 91% BK; 6,2% abu; 5,9% SK; 4,9% Lemak; 30% BETN; 44% PK . Bungkil kedelai yang baik biasanya berwarna krem dan teksturnya kasar. Bahan baku bungkil kedelai sering digunakan sebagai pakan ternak, karena disukai ternak unggas dan protein serta energinya sangat tinggi. Kadar asam amino essensial (lisin) sangat menonjol bila secara terpadu digunakan bersama bahan baku jagung. Penggunaan bungkil kedelai dalam komposisi pakan ternak berkisar antara 10%-30%.
12.  DCP
DCP dalam ransum hanya digunakan sebanyak 5 %. Sentra penghasil utama adalah China dan Thainland. Permasalahan utama untuk bahan pakan ini adalah Indonesia masih import DCP. Solusinya antar lain Indonesia harus bisa memproduksi DCP sendiri atau mengganti dengan bahan pakan yang kandungannya sama.
13.  Premix
Premix merupakan feed suplement atau bahan pakan tambahan yang digunakan untuk pemenuhi atau menyediakan sumber vitamin, mineral dan atau juga antibiotik. Premix memiliki campuran bahan pakan yang telah diencerkan yang dalam pemakaiannya harus dicampurkan kedalam pakan. Premix juga merupakan kombinasi beberapa mikro-ingridient dengan bahan penyerta sehigga merupakan kombinasi yang siap dicampurkan dalam pakan ternak. Dosis penggunaan premix pada unggas tergantung pada jenis unggas dan umurnya. Pada ayam pedaging periode starter dan finisher serta ayam petelur masing-masing menggunkan 500g premix yang dicampurkan kedalam pakan. Penggunaan premix ini harus disesuaikan dengan aturan pakai seperti yang tercantum pada kemasan.
14.  Garam
Komposisi kimia dsaari garam adalah Na sebesar 39,34% dan Cl sebesar 60,66%. Harga perkilo dari garam adalah Rp. 300. Garam digunakan dalam ransum sebanyak 0,25-0,5%). Sentra penghasil garam terbesar di Indonesia yang terletak di daerah Madura sedangkan untuk penghasil garam terbesar di Dunia adalah China. Permasalahan produksi konsumsi nasional garam mencapai 1,7 juta ton/ tahun. Sedangkan saat ini produksi nasional hanya mencapai 1,2 ton/ tahun. Untuk mengatasi defisiensi mineral dimana mineral ini dalam ternak tidak disimpan dalam tubuh karena sebagian besar terdapat di dalam cairan tubuh. Sehingga dengan komposisi yang mengandung mineral esensial Na dan Cl membuat kita harus memberikan garam pada ternak.
15.  Tetes
 tetes adalah bahan pakan yang tergolong dalam kelas sumber energi. Tetes berbentuk cair, berwarna hitam, bau seperti kecap, rasa manis dan memiliki zat antinutrisi berupa mimosin. Penggunan dalam penyusunan pakan ternak terbatas sekitar 5% dari komposisi pakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Rasyaf (1994) yang menyatakan bahwa bila terlalu banyak pemakaiannnya akan menyebabkan feses (kotoran) ternak ungaas menjadi basah. Kadar protein indeks rendah, tapi cukup potensial untuk sumber energi.
16.  Tepung Kapur          
Tepung kapur biasanya digunakan sebagai sumber Ca dalam pakan unggas. Kandungan Ca sebesar 33-38 %, sedangkan P sebesar 0%
17.  Vita Chiks
Vita Chiks adalahvitamin dan anti biotik untuk anak ayam. Komposisinyaterdiri dari Baticratin M D 35 gr, Vitamin A 5.106  iu, Vitamin D3 5.105 iu, Vitamin E 2500 iu, K3 (Menadione Sodium B1 sulfid) 1 gr, Vitamin B1 2 gr, Vitamin B2 4 gr, Nicotinic Acid 5 gr, Vitamin B6 1 gr,Vitamin B12 1 mg, Vitamin C 20 gr.
  • Kualitas Bahan Pakan Ternak Unggas
Kualitas bahan ternak unggas sangat menentukan produktifitas ternak yang diusahakan. Bahkan kualitas yang sangat buruk dapat mengancam kehidupan ternak yang mengkonsumsinya. Kualitas bahan pakan ternak dapat diketahui secara inderawi (organoleptis) dengan mengamati bentuk dan ukuran, bau, warna dan kemurnian bahan.
1.      Bentuk dan Ukuran
Bahan pakan dari nabati dan hewani dalam berbagai bentuk, ukuran dan kondisi fisik yang berbeda-beda. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh cara pemanenan, jenis, tujuan penggunaan dan proses pengolahan terhadap bahan tersebut.
2.      Bau
Bau merupakan salah satu factor yang sangat mempengaruhi selera makan ternak sehingga berpengaruh pada produksi itu sendiri. Bau disebabkan oleh adanya reaksi zat kimia yang ada dalam bahan pakan, aktivitas mikroorganisma dan binatang parasit serta pengaruh temperature lingkungan penyimpanan.
3.      Warna
Enzim yang terdapat dalam bahan pakan berasal dari mikroorganisme yang mencemari bahan pakan tersebut. Enzim ini akan mempercepat reaksi – reaksi kimia dan mengakibatkan perubahan-perubahan pada komposisi bahan pakan termasuk warna.
4.      Kemurnian Bahan
Kemurnian bahan diartikan sebagai tidak tercampurnya bahan pakan dengan bahan lain. Adabeberapa kontaminan yang mempengaruhi kemurnian bahan pakan, yaitu : Kontaminasi dengan bahan tidak sejenis, Kontaminasi dengan benda asing, dan Kontaminasi dengan makhluk hidup.
·       Faktor Pembatas Bahan Pakan
Bahan pakan ternak unggas dalam pemberian dan pemakaiannya sebagai bahan penyusun ransum juga dibatasi dengan faktor – faktor tertentu. Faktor – faktor tersebut adalah
a)      Toksin/Racun;
Pemakaian tepung ubi kayu atau ketela pohon harus dibatasi sekitar 5% dari berat total ransum karena mengandung asam cianik (HCN) yang dapat menyebabkan penyakit gangguan pencernaan.
b)      Serat Kasar
Pemakaian hijaun dalam ransum juga dibatasi sekitar 4% karena hijauan banyak mengandung serat kasar dan serat kasar ini tidak dapat/sulit dicerna oleh tubuh ternak unggas.
c)      Asam Lemak Jenuh
Pemakaian bungkil kelapa harus dibatasi sekitar 20% karena bahan ini banyak mengandung asam lemak jenuh sehingga sering menimbulkan bau tengik pada ransum ternak unggas.

1 komentar: